Disperindag Jatim Dorong IKM Gunakan Kemasan Food Grade

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur mendorong pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) khususnya di bidang kuliner menggunakan kertas food grade untuk kemasan produkn. Pasalnya, jika menggunakan kertas berbahan recycle seperti kertas duplek justru akan membahayakan kesehatan konsumen.

Kepala Bidang Industri Non Agro Disperindag Jawa Timur, Bagas Sulistiati mengatakan, dari segi harga kertas berbahan recycle memang lebih murah, tidak perlu menyedot anggaran untuk kemasan yang lebih banyak. Tak heran permintaan terhadap kertas recycle yang identik berwarna abu-abu dan terlihat kusam ini masih tinggi, banyak pelaku industri percetakan tanah air yang terus memproduksinya untuk memenuhi pesanan untuk kemasan makanan.“Kita sudah sosialisasikan untuk tidak menggunakan kertas recycle untuk kemasan makanan,” ujarnya di acara Surabaya Printing Expo 2019 di Surabaya, Rabu (31/7).

Menurutnya, kertas kemasan yang aman untuk makanan adalah kertas yang memiliki ciri putih bersih, terlihat ada lapisan plastiknya sehingga mengkilap. Dari segi harga memang lebih mahal dibandingkan kertas recycle, juga lebih menarik dari sisi estetika. Kertas food grade sudah menjadi keharusan untuk IKM di bidang kuliner.“Memang belum ada sanksi sampai saat ini, namun kami mengimbau untuk IKM menggunakan kemasan dari kertas food grade,” ungkapnya.

Besarnya permintaan kertas recycle itu pun tercermin dari keberadaaan perusahaan kertas di Jatim, saat ini ada 22 industri kertas di Jatim, sebanyak 10 perusahaan menggunakan bahan baku impor. Bahkan hanya 30% bahan baku kertas recycle yang bisa didapatkan dari dalam negeri, sementara sisanya 70% kertas recycle itu merupakan impor.Sebelumnya ada 70 kontainet re-export, karena dalam kertas recycle itu terdapat banyak kandungan limbah berbahaya.

Dirut PT Krista Media Pratama, Daud D Salim mengatakan, digital printing memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, mulai dari botol minuman, kemasan makanan, pakaian, peralatan rumah tangga hingga lainnya membutuhkan teknologi digital. Mesin digital printingnya pun berbeda-beda untuk bisa menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.“Melalui Surabaya Printing Expo 2019 ini kami menghadirkan berbagai teknologi terkini percetakan, termasuk digital printing,” terangnya seperti yang dikutip www.kominfo.jatimprov.go.id

Pelaku usaha percetakan pun bisa melihat dan membeli mesin berteknologi mutakhir dalam pameran ini, sehingga dari mesin itu bisa diketahui berapa kecepatan printing yang dihasilkan. Dengan begitu bisa meningkatkan hasil produk printingnya, termasuk untuk memenuhi tingginya permintaan printing kemasan makanan. 

Berita Terkait

Tarif Baru Iuran BPJS Kesehatan Yang Berlaku Per 1 Januari 2020

Dengan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas dankesinambungan program jaminan kesehatan, pemerintah memandang perlu dilakukan penyesuaian beberapa ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 82 TahunRead More

DPR RI Menetapkan Batas Usia Perkawinan Menjadi 19 Tahun

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI telah menyetujui ditetapkannya batas minimal usia perkawinan bagi perempuan dan laki-laki menjadi 19 tahun. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Panitia Kerja (PANJA)Read More

Pemerintah Sediakan 818 Ribu KIP Kuliah dan Inisiasi Kartu Pra Kerja

Sesuai dengan amanat konstitusi, pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari belanja negara, atau sebesar Rp505,8 triliun, meningkat 29,6% dibandingkan realisasi anggaran pendidikanRead More

No Comments

Tuliskan Komentar