Setiap wilayah memiliki wajah tersendiri, sesuatu yang membuatnya dikenali dan diingat. Di Kecamatan Tutur, wajah itu tumbuh di antara udara dingin dan kabut dataran tinggi. Kecamatan Tutur dikenal sebagai salah satu penghasil apel di Kabupaten Pasuruan.
Buah apel tumbuh seiring dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada setiap musim panen. Keberadaan apel tidak hanya membentuk lanskap wilayah, tetapi juga menjadikan Tutur dikenali melalui hasil buminya.
Di antara barisan pohon yang tertata rapi, para petani melangkah perlahan menyusuri kebun mereka, memeriksa buah-buah yang tmbuh di antara ranting. Apel-apel berwarna merah dan hijau kekuningan tampak kontras di antara daun-daun yang basah oleh embun. Terdapat tiga varietas apel yang dibudidayakan, yakni Manalagi, Rome Beauty, dan Anna.
Apel-apel tersebut ditanam di lahan seluas 748 hektar lebih. Bentangan perkebunan apel tersebar di 12 desa di Kecamatan Tutur yang dikirim ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti Malang, Batu, Surabaya, Semarang, Bali, dan Jakarta. Harga jual mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.
Bagi masyarakat Tutur, apel menjadi sumber penghidupan yang menopang kebutuhan sehari-hari. Hasil panen digunakan untuk memenuhi kebuuhan keluarga. Dari kebun-kebun inilah kehidupan berjalan dan harapan terus tumbuh. Namun, tidak setiap musim berjalan mudah. Perubahan cuaca dan fluktuasi harga kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.
Di tengah dinginnya dataran tinggi, apel terus bergelantungan di antara daun-daun yang sunyi. Ia tumbuh bersama kerja keras dan ketekunan petani. Dari kebun-kebun milik warga, apel bukan hanya sekadar hasil, tetapi membentuk wajah Tutur sebagai bagian dari penghasil apel terbaik. (Amanda)
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini