Aroma asap menyambut setiap orang yang melintas di Desa Kedungboto, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Melalui tungku-tungku sederhana, ikan diasapi perlahan menggunakan batok kelapa hingga menghasilkan daging yang lunak dan rasa gurih yang khas.
Tidak hanya menjadi hidangan yang mengunggah selera, ikan asap juga tumbuh sebagai salah satu potensi kuliner yang menghidupkan denyut ekonomi masyarakat dan membawa nama Pasuruan lebih luas. Di kawasan ini, puluhan pedagang setiap hari mengasapi berbagai jenis ikan, mulai dari bandeng, pating, hingga gurami.
Melalui peroses pengasapan yang berlangsung selama berjam-jam, ikan mengalami perubahan yang tidak hanya memperpanjang daa tahannya, tetapi juga memperkaya cita rasa. Daging ikan menjadi lebih padat dengan aroma asap yang meresap hingga ke dalam serat. Rasa gurih yang dihasilkan menghadirkan pengalaman kuliner yang khas dan sulit ditemukan pada olahan ikan lainnya.
Di sepanjang kawasan Kecamatan Beji, deretan tempat pengasapan berdiri berdampingan. Asap tipis terus mengepul dari tungku, sementara para pedagang dengan cekatan membalik ikan agar matang merata.
Permintaan ikan asap terus meningkat, bahkan mampu mencapai puluhan hingga ratusan kilogram perharinya pada waktu-waktu tertentu. Pembeli datang tidak hanya dari Pasuruan, tetapi juga dari berbagai daerah lainnya, seperti Malang dan Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa ikan asap telah berkembang menjadi salah satu potensi kuliner yang memeprkuat identitas daerah sekaligus menopang perekonomian masyarakat.
Aroma yang menguar dari bara bukan sekadar penanda proses memasak, melainkan simbol kehidupan yang terus bergerak. Melalui cita rasanya yang khas, ikan asap telah menjadi bagian dari wajah Kabupaten Pasuruan, membawa kekayaan kuliner daerah untuk terus dikenal dan diingat. (Amanda)
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini