Kabut turun perlahan di lereng Gunung Ringgit, menutup jalan setapak yang berliku seolah menyisakan ruang bagi langkah-langkah yang sungguh-sungguh ingin datang. Di antara pepohonan yang rapat dan udara yang lembap, perjalanan menuju Pertapaan Indorkilo bukan sekadar soal jarak, melainkan tentang kesediaan untuk menepi dari riuh, dari dunia yang terus bergerak tanpa jeda.
Sekilas tak ada yang mencolok. Hanya susunan batu, punden berundak, dan jejak-jeka masa yang tempak sederhana. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah, Pertapaan Indorkilo menyimpan lapisan makna. Situs ini diyakini sebagai peninggalan masa Majapahit. Tempat di mana para pertapa dahulu mencari ketenangan batin dan mendekatkan diri pada yang Ilahi. Arca-arca yang masih tersisa, serta struktur bangunan yang tertata menjadi penanda bahwa tempat ini pernah menjadi ruang penting, bukan untuk keramaian tetapi untuk keheningan.
Perjalanan bukan tanpa tantangan. Jalur yang harus ditempuh menanjak dan terkadang licin, terutama ketika kabut turun dan embun membasahi tanah. Namun, jsutru di situlah pengalaman terbentuk. Setiap langkah terasa lebih pelan, setiap napas lebih disadari. Alam seperti memaksa siapa pun yang datang untuk menyesuaikan ritme, meninggalkan kebisingan, dan mulai mendengar suara dari dalam diri.
Masyarakat percaya bahwa Pertapaan indrokilo menjadi lokasi pertapaan tokoh-tokoh penting, bahkan diakitkan dengan perjalan batin Soekarna di masa lalu. Terlepas benar atau tidaknya, Pertapaan Indrokilo terus hidup dalam ingatan kolektif, sebagai ruang yang dipercaya memiliki energi ketenangan. Kabut yang menyelimuti kawasan ini seakan menjadi metafora dari perjalanan batin itu sendiri. Ia tidak sepenuhnya menutup, tetapi juga tidak sepenuhnya membuka.
Di tengah arus modernitas yang serba cepat, keberadaan Pertapaan Indrokilo menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada ruang-ruang yang justri meminta untuk diselami perlahan. Pemerintah Kabupaten Pasuruan sendiir telah menetapkan kawasan ini sebagai bagian dari cagar budaya. Menjadi sebuah langkah untuk menjaga agar jejak sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang oleh waktu. (Amanda).
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini