Gerakan Kecil Melawan Krisis Sampah dari Dapur Rumah Tangga dan Bank Sampah Desa - DISKOMINFO Kabupaten Pasuruan

Gerakan Kecil Melawan Krisis Sampah dari Dapur Rumah Tangga dan Bank Sampah Desa

8x dibaca    2026-02-18 10:00:00    Robiatul 'Adawiyah

202605/974-69f83eb3dc594.jpg

Kantong-kantong sampah yang menumpuk setiap hari telah menjadi isu lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Setiap kantong sampah yang dibuang tentu tidak otomatis hilang meskipun telah dikirim ke TPA. Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Pasuruan mulai mendorong pengadaan program bank sampah melalui gerakan Satu Desa Satu Bank Sampah atau SDSB.

Gerakan SDSB ini memotivasi  munculnya unit pengelolaan sampah mandiri di setiap desa. Keberadaan bank sampah difungsikan untuk mengedukasi, tempat pemilahan, pengumpulan sampah yang bernilai ekonomis, dan memberdayakan masyarakat sekitar. Program ini tersebar luas di berbagai desa wilayah Kabupaten Pasuruan. 

Upaya mengurangi sampah dari sumbernya menjadi tujuan utama dari Gerakan SDSB. Harapannya kebiasaan memilah sampah dapat dimulai dari dapur rumah tangga. Dengan demikian, sampah yang menumpuk di TPA dapat berkurang sekaligus mempermudah proses pengendalian pengelolaan sampah.

Jika Sampah yang menumpuk di TPA tidak dikendalikan, maka persoalan baru dapat muncul. Penumpukan sampah organik yang membusuk dapat menciptakan gas metana. Penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat menyebut sektor sampah menjadi penyumbang gas rumah kaca yang signifikan hingga terjadi pemanasan global dan perubahan iklim.

Isu lingkungan ini sedang diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan dengan adanya program SDSB. Program ini juga memanfaatkan kolaborasi dengan Bank Sampah Kota Malang untuk memperdalam konsep 3R. Konsep reduce reuse recycle dinilai realistis dan murah untuk diterapkan. Masyarakat diajak mengolah sampah organik menjadi kompos dan memilah anorganik agar bernilai ekonomi.

Demi melancarkan program bank sampah, masyarakat dapat mulai melaksanakan konsep 3R dari dapur masing-masing. Sampah organik dan anorganik dipisahkan sebelum dibuang. Kebiasaan memilah menjadi kunci perubahan perilaku. Jika dilakukan secara konsisten, volume sampah yang masuk TPA dapat ditekan.

Program SDSB tentu tidak terlepas dari peran RT dan RW sebagai penggerak di tingkat lingkungan. Dibutuhkan adanya sosialisasi agar warga memahami fungsi bank sampah. Pada Penelitian Pengabdian Masyarakat, program pengelolaan sampah juga dapat didorong oleg digitalisasi pengelolaan agar pencatatan lebih tertib dan transparan. Sistem ini membantu keberlanjutan program dan memperluas partisipasi warga.

Bagi desa yang belum memiliki bank sampah DLH Pasuruan menyediakan formulir daring melalui https://dlhpasuruan.id/form-bank-sampah/. Warga cukup mengisi data dan mengajukan permohonan pembentukan unit bank sampah baru. Perubahan sosial dan pengurangan emisi tidak selalu dimulai dari proyek besar. Gerakan kecil melawan krisis sampah dan perubahan iklim juga dapat tumbuh dari kebiasaan mengolah sampah dari dapur rumah tangga. (Imelda)


Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini