Persaingan bahan kulit asli dan kulit sintetis selalu mewarnai industri alas kaki. Menyebabkan dilema di antara sentra produk sepatu. Di Kabupaten Pasuruan, sejumlah rumah produksi sepatu masih setia pada bahan kulit asli karena lebih kuat dan tahan lama. Industri sepatu dan sandal di Desa Masangan, Kecamatan Bangil serta Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo contohnya.
Industri alas kaki berbahan kulit di Desa Masangan dimulai oleh keuletan satu perajin. Usaha yang digeluti sejak tahun 1990-an ini kemudian berkembang menjadi lima kelompok perajin dengan masing-masing 12-15 tenaga kerja. Selain mendatangkan ladang bisnis bagi perajin, industri ini juga berperan dalam mengurangi angka pengangguran di desa.
Di tahun yang sama, Desa Karangsono juga memulai industri sepatu kulit dari rumah sederhana seorang perajin. Dalam perjalanannya, industri di desa ini telah melahirkan berbagai model meliputi safety shoes, sporty shoes, pantofel, hingga sandal kulit. Semua alas kaki diproduksi secara manual, memanfaatkan mesin jahit sederhana, mesin press, hingga alat sulas dengan beban produksi rata-rata 10-20 pasang dalam sehari.
Keberadaan industri rumahan ini berdampak ganda bagi kehidupan masyarakat sekitar. Para pencari kerja terserap, menjangkau pasar hingga luar pulau, menambah pendapatan desa, sekaligus mempermudah masyarakat lokal untuk mendapatkan sepatu kulit berkualitas. Penggunaan bahan kulit berkualitas, ketelitian perajin, serta sol yang merekat kuat turut berperan dalam kelestarian industri lokal ini.
Penelitian yang termuat dalam jurnal Textile & Leather Review menyebut bahan kulit yang digunakan pada sepatu memiliki standar khusus. Bahan kulit harus memiliki kekuatan tarik (tensile strength), ketahanan sobek, serta daya lentur tinggi. Studi juga membuktikan bahwa serat kolagen dari bahan kulit yang terikat rapat dan berkualitas mampu menahan tekanan, tarikan, dan lipatan berulang selama pemakaian.
Faktor lain yang turut memengaruhi ketahanan sepatu kulit berasal dari ketebalan bahan, bagian kulit yang dimanfaatkan, serta proses penyamakan kulit. Studi asal India menunjukkan keterkaitan kelembapan, kandungan lemak, kualitas daya rekat, serta krom oksida dengan kekuatan sekaligus stabilitas bahan kain. Dengan kata lain, sepatu kulit yang awet lahir dari kolaborasi bahan berkualitas dan keahlian tangan-tangan perajinnya. (Imelda)
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini