Di antara jejak panjang tradisi Jawa klepon tidak hanya sekadar kudapan, melainkan ingatan yang hidup dalam setiap jamuan dan perayaan. Di dalam kitab sastra Serat Centhini, klepon menjadi salah satu hidangan yang sering dihidangkan dalam jamuan makan dan ritual perayaan adat. Kehadirannya bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga sebagai penanda kebersamaan, kesederhanaa, dan rasa syukur.
Di tanah Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Pasuruan, klepon tumbuh sebagai bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Kudapan kecil ini telah dikenal sejak tahun 1950-an, diwariskan dari tangan ke tangan dan generasi ke generasi.
Nama klepon berasal dari bahasa Jawa yang berarti âindung telur hewanâ, merujuk pada bentuknya yang kecil dan bulat. Kudapan ini menggambarkan kesederhanaan. Balutan hijau muda berarti bahwa hidup itu haruslah lemah lembut agar dapat merasakan apa yang ada di sekitar. Sementara itu, parutan kelapa di bagian luar dan irisan gula merah di dalam menandakan bahwa meski bentuknya sederhana, namun di dalamnya diliputi kesempurnaan.
Cara membuatnya cukup sederhana jika ingin mencoba membuatnya di rumah.
Bahan-Bahan:
⢠250 gram tepung beras ketan
⢠50 gram tepung beras
⢠1 sdt garam
⢠1350 ml air mineral
⢠Daun pandan secukupnya
⢠Kelapa buah parut dan sudah dikukus
⢠Gula merah sisir halus
⢠3 sdm gula pasir
Cara Membuat:
⢠Campurkan tepung beras ketan, tepung beras dengan garam, kemudian aduk rata. Lalu masukkan sedikit demi sedikit air pandan murni;
⢠Aduk hingga adonan menjadi kental dan kemudian dibentuk dan diisi dengan gula merah;
⢠Bentuk adonan menjadi bola lalu rebus di dalam air yang sudah mendidih. Tunggu hingga klepon mengapung;
⢠Tiriskan klepon dan taburi dengan kelapa parut dan tambahkan gula pasir;
⢠Sajikan selagi hangat.
Saat masih hangat, permukaan klepon yang lembut dan kenyal perlahan luluh ketika digigit, seolah membuka jalan bagi rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Dalam sekejap, gula merah cair memecah sunyi, mengalir hangat, menghadirkan manis yang menetap. Parutan kelapa yang membalut tubuhnya menambahkan gurih dan menyeimbangkan rasa.
Di Kabupaten Pasuruan, klepon hidup di antara denyut pagi yang masih bersih. Ia hadir di meja-meja kayu. Tangan-tangan itu bekerja tanpa tergesa, membentuk bulatan demi bulatan. Sentra penjual klepon paling terkenal berada di sepanjang jalur Pantura, tepatnya di Kecamatan Gempol. Di sekitaran bundaran jalan tol Gempol-Beji. Penjual klepon berjejer di area ini.
Di dapur-dapur sederhana, tradisi itu tetap dijaga. Tepung, air, dan gula dipertemukan bukan hanya sebagai bahan, tetapi sebagai bagian dari warisan yang terus dirawat. Dari sanalah klepon menjadi lebih dari sekadar kudapan. Ia menjadi pengingat bahwa manis tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang, ia lahir dari hal-hal kecil dari tangan yang bekerja dengan cinta, dari tradisi yang menolak hilang, dan dari kesederhanaan yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman. (Amanda)
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini