Mengulik Fakta si Raja Buah Asal Desa Kronto - DISKOMINFO Kabupaten Pasuruan

Mengulik Fakta si Raja Buah Asal Desa Kronto

12x dibaca    2026-04-06 10:00:00    Robiatul 'Adawiyah

202605/981-69f8408a016cc.jpg

Jawa Timur dikenal sebagai satu dari banyaknya sentra durian terbesar di Indonesia. Bermacam-macam jenis durian bertunas dengan masing-masing cita rasa. Di antara kabupaten yang turut berkontribusi, Kabupaten Pasuruan masuk dalam daftar. Total empat desa dari Kecamatan Lumbang tampil sebagai wilayah penghasil utama durian, yakni desa Pancur, Bulukandang, Lumbang, dan Kronto. Keempatnya kemudian menjelma titik menarik bagi pecinta durian Kabupaten Pasuruan.

Di Desa Kronto, jati diri durian lebih dari sekedar penggerak roda ekonomi. Durian hidup dalam tradisi setempat, seperti partisipasinya dalam pagelaran selamatan desa selama dua hari berturut-turut setiap musim panen. Acara khataman Al-Qur'an, doa, dan tahlil dilaksanakan pada hari pertama. Sementara hari kedua menjadi panggung buah durian yang disusun menggunung sebagai simbol kemakmuran.

Dalam konteks budaya Asia Tenggara, keberadaan buah durian dipenuhi kontradiksi. Tampak dari peran durian dalam tradisi tahunan masyarakat Kronto yang menyimbolkan rasa syukur sekaligus rasa kebersamaan. Di samping itu, durian juga kadangkala menimbulkan perdebatan sebab aroma eksklusifnya. Penelitian menyebut aroma durian berkembang dari senyawa sulfur volatil intens selama proses kematangan buah. 

Terlepas dari perdebatan aroma, durian kaya akan gizi istimewa. Kandungan durian antara lain karbohidrat tinggi, vitamin B, vitamin C, lemak sehat, senyawa bioaktif, serta mineral. Zat polifenol dan flavonoid dari durian menciptakan energi dan antioksidan. Demi memperoleh manfaat buahnya, takaran saji ketika mengonsumsi durian perlu diperhatikan agar tidak berdampak pada detak jantung.

Kualitas durian Desa Kronto selaku penjaga kepercayaan konsumen menjadi perhatian para petani. Mereka bahkan menciptakan metode khusus guna melindungi performa durian. Dengan memanfaatkan seutas tali, durian dapat terhindar dari benturan. Sebelum tangkai durian luruh, tali diikatkan pada batang. Hasilnya daging buah tetap utuh dan kulit durian senantiasa tampak memesona. 

Cira rasa durian khas Desa Kronto bervariasi. Mulai dari jenis durian Si Karim, Durian Petruk, Durian Si Laron, dan lainnya. Dari beragam jenis durian yang dijajakan, Desa Kronto punya Si Kasmin. Durian berdaging kesat, legit, serta sedikit renyah kecintaan konsumen. Nama durian ini bermula dari nama tokoh setempat, pemilik pohon durian indukan berkualitas tinggi. Jangkauan pasar durian Desa Kronto sudah mampu menjangkau kota-kota besar meliputi Malang, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Selain berhasil memeluk buah tangan berkualitas, pengunjung juga memperoleh pelayanan memanjakan dari para petani durian. Durian yang dipilih dapat dicicipi langsung dari kebun. Jika kualitas durian yang dipilih kurang memenuhi standar bentuk dan rasa, pengunjung dipersilahkan menukar duriannya. Rasa aman, nyaman, serta kepuasan konsumen diutamakan. Pengunjung juga dimudahkan untuk menemukan lokasi agrowisata durian ini melalui kata kunci “Home Agrowisata Durian Kronto” di Google Maps.

Menilik lebih jauh, potensi durian juga ditemukan biji dan kulit buahnya. Penelitian menemukan muatan senyawa bioaktif semacam flavonoid dan fenolik dalam kedua bagian tersebut untuk bahan pangan fungsional berantioksidan. Ditemukan pula kandungan tanin, alkaloid, dan saponin pada daun durian guna farmakologis. Dengan demikian, keseluruhan buah durian sejatinya bermanfaat bagi pengembangan produk alami serta mendukung kesehatan tubuh. (Imelda)


Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini