Sentuhan Tangan Setiap Kain Bordir Bangil - DISKOMINFO Kabupaten Pasuruan

Sentuhan Tangan Setiap Kain Bordir Bangil

8x dibaca    2026-01-28 11:00:00    Robiatul 'Adawiyah

202605/972-69f83e2251c54.jpg

Cara membedakan bordir yang diproduksi perajin Bangil, Kabupaten Pasuruan dan daerah lain cukup mudah. Hasil kain bordir Bangil terasa lebih halus sebab memanfaatkan metode produksi manual yang masih dipertahankan. Berbeda dengan kain produksi daerah lain yang sudah mengalami modernisasi menggunakan komputer. 

Perkembangan zaman yang tengah pesat-pesatnya ini tentu membawa angin segar bagi para pengrajin bordir. Melalui mesin-mesin produksi, kain bordir dapat diproduksi lebih cepat dan menghasilkan harga kompetitif. Di sisi lain, hasil mesin-mesin tersebut tidak dapat disamakan dengan bordir bernilai seni yang dihasilkan langsung oleh tangan perajin.  

Estetika yang tercipta melalui tangan-tangan ahli di selembar kain bordir tidak lepas dari budaya lokal di sekitar. Studi estetika yang telah difokuskan pada hasil bordir beberapa daerah menunjukkan adanya pengaruh besar lingkungan yang melatarbelakangi proses produksi bordir. Mulai dari motif, warna, serta teknik tertentu dipilih sebagai penanda identitas dan nilai budaya.

Perkenalan kain bordir Bangil dengan kulit pemakainya juga menciptakan kesan sederhana melalui metode kerja yang ramah terhadap pengrajin. Seperti yang disebutkan dari penelitian tentang Sentra Bordir Bangil, cara produksi inilah yang menjadi wajah yang mampu menjaga daya saing. Penelitian ini juga menyampaikan pesona kerja sunyi di balik produksi bordir Bangil hingga menembus pasar Internasional.

Dikutip dari Antara Jatim, bordir Bangil berhasil menjadi idaman pasar Malaysia dan Brunei Darussalam. Bangkitnya industri kain bordir ini juga didukung oleh peragaan busana yang sempat diramaikan oleh Bupati Pasuruan. Wajah bordir Bangil semakin diharumkan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan Pasuruan Fashion on the Street.

Melihat pasar yang semakin luas dengan permintaan yang terus datang, tentu dibutuhkan adanya strategi produksi ganda. Penting untuk mempertahankan keterampilan melalui pelatihan agar metode manual yang khas tetap mengakar di Bangil. Di sisi lain, juga dibutuhkan adanya penguatan akses pasar serta desain yang relevan dengan perkembangan pasar tanpa menghilangkan estetika dan diri khas bordir buatan tangan. (Imelda)


Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini