Sepasang Tangan Mengukir Mimpi di Serat Kayu - DISKOMINFO Kabupaten Pasuruan

Sepasang Tangan Mengukir Mimpi di Serat Kayu

10x dibaca    2026-02-19 11:00:00    Robiatul 'Adawiyah

202605/961-69f837b16502d.jpg

Suara gesekan kayu memecah keheningan pagi di Dusun Kelataan RT 07 RW 02, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Di tempat itulah, sepasang tangan milik pasangan suami istri, Ratna Dwi Purweni dan Mualimin bekerja tanpa lelah. 

Dari gelondongan kayu yang tampak sederhana, mereka mengukir lebih dari sekadar peralatan dapur. Setiap serat kayu yang mereka haluskan bukan hanya sebagai benda pakai, melainkan menyimpan jejak perjalanan panjang yang dibangun dari ketekunan, kesabaran, dan keyakinan untuk bertahan di tengah keraguan. 

Usaha kerajinan kayu ini mulai mereka rintis pada tahun 2015. Berawal dari skala kecil dengan peralatan sederhana, Ratna dan Mualimin perlahan membangun usahanya mulai dari nol. Mereka memproduksi berbagai peralatan dapur, seperti cobek, ulekan, talenan, hingga mangkuk yang dikerjakan langsung dengan tangan mereka sendiri. 

Pada awal merintis usaha, perjalanan yang mereka tempuh tidak selalu mudah. Keraguan dari sekitar sempat menjadi tantangan, bahkan Ratna pernah meragukan pilihan tersebut. Keuntungan dari perabot kayu terasa begitu kecil jika dibandinkan dengan usaha lain yang pernah mereka jalani. Di rumah kontrakan sederhana, mereka hanya mampu meproduksi beberapa centong dan spatula, lalu menjualnya ke pasar-pasar terdekat. 

Namun, waktu menjadi saksi atas keteguhan mereka. Ketelatenan tangan dan kesabaran hati perlahan membuka jalan. Setiap permukaan kayu dihaluskan dengan penuh perhatian, melahirkan karya yang memiliki ciri khasnya sendiri. 

Seiring berjalannya waktu, usaha yang mereka bangun perlahan mulai berbuah hasil. Pesanan yang awalnya datang dari lingkungan sekitar, kini mulai berdatangan dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Produk-produk buatan Ratna dan Mualimin semakin dikenal karena kualitas dan ketelitiannya hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. 

Di tempat sederhana itu, tangan Ratna dan Mualimin masih setia mengukir kayu, seperti saat mereka pertama kali memulai, Dari setiap serat yang mereka haluskan, mimpi itu terus hidup, tumbuh bersama ketekunan yang tak pernah mereka hentikan. (Amanda)


Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini